Thursday, June 25, 2009

Melakukan sosialisasi program PERTAMA di kelompok masyarakat

Melakukan sosialisasi program PERTAMA di 42 kelompok masyarakat

Sosialisasi mengacu pada kunjungan masyarakat terdampak bencana yang mempresentasikan dan merinci program PERTAMA, sasaran dan batasannya. Peninjauan kembali (revisiting) perlu dilakukan terhadap 42 kelompok masyarakat ini guna membuka jalan bagi pemahaman penerima manfaat dan dengan demikian ada dukungan masyarakat yang kuat terhadap program. Penekanan harus diberikan pada perbedaan pendekatan program di mana keberhasilan CBDP PMI, dan dengan demikian pendekatan standar PERTAMA, akan sangat bergantung pada masyarakat yang kuat, memiliki motivasi dan bersatu, di mana upaya dan partisipasi aktif akan sangat berarti. Kegiatan sosialisasi lebih lanjut mencakup sasaran kegiatan program sebagaimana yang dijabarkan pada bagian 2.11.3 (kegiatan no.1.5) kendati kegiatan sosialisasi lebih terpusat pada ‘undangan’ dan penyampaian informasi dari PMI ke masyarakat.

SIBAT memfasilitasi proses PERTAMA dalam masyarakatnya

SIBAT memfasilitasi proses PERTAMA dalam masyarakatnya –

Kegiatan tersebut berkaitan dengan penguatan ikatan dan interaksi positif yang terus-menerus antara SIBAT dengan masyarakatnya. Diadakannya rapat bulanan yang bersifat internal dilihat sebagai suatu platform untuk interaksi positif terus-menerus antara PMI dan masyarakat luas serta merupakan update rutin mengenai status dan kemajuan program. Mobilisasi masyarakat SIBAT mencakup aspek-aspek program/masyarakat dan umpan balik program/masyarakat, kegiatan sosialisasi, pembagian tanggung jawab, penetapan prosedur administratif, inisiatif advokasi dan lain-lain. Koordinasi dan mobilisasi SIBAT di tingkatan masyarakat dirancang untuk pelaksanaan kegiatan program yang terus-menerus dengan sasaran puncaknya adalah mengembangkan rencana aksi masyarakat berdasarkan atas PRA/VCA dan hasil pemetaan risiko.

Kelompok KSR dan SIBAT mengadakan rapat rutin

Kelompok KSR dan SIBAT mengadakan rapat rutin

Sesuai dengan fokus perhatian pada aspek komunikasi program dan antara struktur PMI, perwakilannya dan masyarakat, perlu diadakan pertemuan rutin guna memastikan koordinasi yang tepat, saling berbagi informasi dan membentuk sebuah forum di mana semua pemangku kepentingan dapat menyuarakan opini dan kritikannya. Pertemuan tersebut sebaiknya dilakukan dalam basis bulanan dan difasilitasi oleh PMI cabang, koordinator lapangan dan KSR.

Penyediaan peralatan standar KSR dan seragam

Penyediaan peralatan standar KSR dan seragam

Program ini memberikan memberikan gambaran yang jelas bagi tim KRS yang terlibat dan diperbantukan di keenam PMI cabang sasaran. Seperangkat seragam akan disediakan untuk ketiga puluh anggota tim. Lebih lanjut keenam akan diberi peralatan standar aksi tanggap antara lain dapur lapangan yang lengkap, generator pembangkit listrik, jerigen, tandu dan berbagai peralatan dan berbagai macam peralatan lainnya (lihat daftar lengkap di Lampiran 8). Peralatan tersebut dimaksudkan untuk menyediakan bantuan peralatan yang memadai buat PMI di saat terjadi bencana dan juga menjadi bagian dari latihan simulasi.

Pelatihan anggota pengurus mengenai tata kelola yang baik (good governance) dan manajemen



Pelatihan anggota pengurus mengenai tata kelola yang baik (good governance) dan manajemen –

Pelatihan dan peningkatan kapasitas anggota pengurus baik di tingkat daerah maupun cabang dilihat sebagai bagian utuh dari pengembangan sumber daya manusia PMI dan dengan demikian berkontribusi terhadap citra PMI keseluruhan di tingkat lokal maupun nasional. Pentingnya pembangunan citra terkait erat dengan kapasitas mengelola serta memasukkan semua aspek tata kelola yang baik agar PMI dapat membangun suatu reputasi yang benar-benar kredibel, tidak hanya dalam aksi tanggap bencana tapi juga dalam isu-isu pengelolaan program dan keorganisasian secara umum. Program dan motivasi manajerial serta keterlibatan anggota pengurus PMI dibayangkan akan mengalami peningkatan dengan adanya kesempatan dan dengan disediakannya pelatihan berbasis kebutuhan yang diberikan kepada kekompok sasaran ini.

Relawan KSR melatih tim SIBAT mengenai PERTAMA sesuai dengan pedoman CBDP PMI

Relawan KSR melatih tim SIBAT mengenai PERTAMA sesuai dengan pedoman CBDP PMI –

Tim KSR bertindak sebagai basis sumber daya fasilitator di tingkat cabang tetapi dengan fungsi penjangkauan (outreach) PMI, terutama terkait dengan interaksi positif (rapport) yang terus-menerus dan pelaksanaan kegiatan bersama SIBAT. Sebagai anggota PMI terlatih, KSR sangat cocok dan merupakan rekan kerja (peer) lokal SIBAT dalam masyarakat sasaran. Pelatihan merupakan pengenalan intensif selama lima hari mengenai Palang Merah/Bulan Sabit Merah dan PMI sesuai dengan jadwal/kurikulum pelatihan (Lampiran 7).

ToT menyediakan pelatihan khusus/pelatihan penyegaran untuk PERTAMA dan penanggulangan bencana

ToT menyediakan pelatihan khusus/pelatihan penyegaran untuk PERTAMA dan penanggulangan bencana

ToT mengacu kepada relawan PMI yang berpengetahuan luas dan secara tipikal lebih aktif bertindak sebagai pelatih dan/atau fasilitator dengan potensi untuk bertindak sebagai pemimpin dalam pelaksanaan program dan penguatan posisinya dalam hal pemajanan (exposure) DM/DP/DRR, misalnya untuk memperoleh pengalaman nyata (hands on experience) dalam aksi tanggap bencana. ToT umumnya adalah koordinator lapangan yang diperbantukan di program, anggota KSR terlatih (advanced) dan bahkan akuntan program.

Pada kasus PERTAMA, kegiatan ini lebih menyangkut pada pelatihan para pelatih yang berbasiskan kebutuhan guna membekali pelatih ini dalam memfasilitasi dan memimpin pelatihan SIBAT dan PMI yang semakin kompleks, kegiatan lapangan dan loka karya yang terkait dengan program dan untuk isu-isu DM/DP/DRR secara umum. Pelatihan khusus ToT atau pelatihan penyegaran biasanya merupakan suatu pertemuan yang dilakukan secara terpusat oleh para staf dan relawan dari berbagai program dan badan PMI.

Seleksi dan pelatihan anggota KSR PERTAMA di ke enam PMI cabang sasaran



Seleksi dan pelatihan anggota KSR PERTAMA di ke enam PMI cabang sasaran

Tiap cabang sasaran harus memiliki satu tim KSR yang terdiri dari 30 anggota yang merupakan anggota terlatih (advanced) KSR yang ketika terjadi bencana atau ketika dibutuhkan, akan berfungsi sebagai unit aksi tanggap (response unit) dan dengan demikian harus menjadi lebih terampil terutama dalam kemampuan aksi tanggapnya. Anggota ini biasanya juga merupakan orang yang memiliki bakat kepemimpinan (natural leader) dan pelatihannya yang khusus (lihat rencana pelatihan KSR, Lampiran 7) akan membekali mereka dalam memfasilitasi pelatihan dan kegiatan untuk SIBAT dan juga lebih proaktif dalam kegiatan PMI cabang sehari-hari serta dalam mewakilkan PMI secara umum.

Pembentukan Kelompok Kerja (Working Groups) di semua level

Pembentukan Kelompok Kerja (Working Groups) di semua level

Kelompok kerja dibentuk sebagai badan pelaksana di dalam komite penanggulangan. Kelompok kerja ini mengkoordinasikan kegiatan dan menyiapkan anggaran kegiatan serta laporan yang akan diserahkan melalui sistem PMI. Kelompok kerja berada di garis depan dalam hal hubungan langsung dengan penerima manfaat, baik KSR, SIBAT atau masyarakat umum. Senada dengan komite penanggulangan, kelompok kerja juga perlu mengembangkan jalinan hubungan komunikasinya di antara para kelompok dengan mengambil alih komando untuk pelaksanaan kegiatan prakarsa PMI yang semakin meningkat serta pengelolaan kegiatan PERTAMA di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kelompok kerja, anggota dan fungsinya telah dijabarkan pada bagian 2.8.1.

Pembentukan Komite Penanggulangan (Management Committees) di semua level

Pembentukan Komite Penanggulangan (Management Committees) di semua level

Pembentukan komite penanggulangan mengacu kepada badan PMI yang pada akhirnya merupakan manajer eksekutif program di samping menjadi rekan kerja (peer) bagi ‘kantor’ PMI baik yang di pusat, provinsi ataupun kabupaten. Pembentukan komite penanggulangan berakar pada pemikiran untuk meningkatkan keikusertaan PMI yang memadai dalam program serta menciptakan suatu platform peningkatan interaksi positif antara badan-badan PMI secara internal serta dengan pemangku kepentingan program. Komite penanggulangan dan tugas-tugasnya digambarkan secara lebih rinci pada bagian 2.8.1.

Seleksi dan pelatihan Koordinator Lapangan dan Akuntan di Tingkat Daerah/Cabang

Seleksi dan pelatihan Koordinator Lapangan dan Akuntan di Tingkat Daerah/Cabang

Seleksi koordinator lapangan dan akuntan merupakan kegiatan internal PMI di mana PMI daerah dan cabang memilih dan merekrut staf yang diperbantukan di program untuk bertindak sebagai jalinan hubungan (links) langsung antara PMI (kantor pusat, daerah & cabang, KSR) dan masyarakat (SIBAT) serta antara ini semua dengan DRC (Penasihat Teknis PERTAMA, Asisten Program & DRC PO). Koordinator lapangan lebih lanjut memiliki tanggung jawab utama terhadap pelaksanaan kegiatan lapangan dan koordinasi kegiatan. Tugasnya akan dikoordinasikan secara erat bersama akuntan program dan mereka sebagai kesatuan unit bertanggung jawab kepada PMI dan secara tidak langsung kepada DRC untuk pelaksanaan kegiatan yang tepat waktu dan penyelesaian biaya program. Pelatihan akan mencakup unsur-unsur sebagaimana yang digambarkan dalam kegiatan 1.4 tapi pelatihan administratif dan keuangan yang terpisah juga akan diberikan ke akuntan.

Saturday, June 20, 2009

Kapan melakukan VCA?

Pra Bencana
  • Saat yang tepat untuk melakukan VCA
Saat Bencana (Tanggap Darurat Bencana)
  • Bukan saat yang tepat namun untuk slow on set disaster seperti ancaman kekeringan yang berpotensi menyebabkan bencana kelaparan dapat digunakan tergantung waktu dan sumber daya
Pasca Bencana (masa rehabilitasi bencana)
  • Menggunakan VCA untuk mengevaluasi dampak serta mereview apa yang diperlukan untuk menghindari masalah yang akan datang

VCA sebagai alat perencanaan

  • VCa digunakan untuk memprioritaskan dan kegiatan mana yang akan dilaksanakan, urutan/tahapan kegiatan, input yang diperlukan, serta beneficiaries/kelompok sasaran.
  • Memberi peluang untuk perencanaan yang dinamis dan realisitc yang memungkinkan proses monitoring, fleksibilitas serta multi solusi
  • membantu mengevaulasi dampak proyoek dalam hal pengurangan risiko, meminimalkan kerentanan serta meningkatkan kapasitas

Manfaat VCA sebagai alat diagnosis

  • Membantu memahami maslah dan gejala gejalany, termasuk akar permasalahannya
  • membantu melihat secara sistematis sumber day, keterampilan dan kapasitas yang tersedia
  • memfokuskan pada kondisi spesifik(ancaman dan risiko spesifik, kelompok paling rentan, sumber kerenatanan, persepsi lokal terhadap resiko, sumber daya dan kapasitas lokal).
  • Menekankan pada area tanggungjawab yang berbeda untuk mengurangi kerentanan.

Apa itu VCA?

Vulnerabilty Capacity Assesment (VCA)
  • Adalah kegiatan pengumpulan informasi yang akan di gunakan oleh pihak internal maupun eskternal dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan kegiatan penganagan bencana
  • Proses penilaian yang digunakan untuk menidentifikasi kapasitas(kekuatan) dan kerentanan (kelemahan) suatu rumah tangga, masyarkat maupun institutsi
VCA sangat penitng karena:
  • asesmen untuk perencanaan kegiatan yang berkelanjutan (long term development)
  • Simple, aplikable namun komprehnsif
  • memberikan perhatian yang mendalam terhadap prediksi, pencegajhan, kesiapsiagaan dan mitigasi

Peranan tim KSR, tim Sibat dan masyarakat binaan dalam kegiatan KBBM-PERTAMA

sejak awal harus di sadari oleh KSR PMI Cabang maupun tim sibat bahwa masyarakat harus ditempatkan sebagai pelaku utmama sekaligus pemilik utama dari kegiatan tersebut. Masyarkat harus diberikan kesempatan belajar seluas luasnya dan terlibat secara penuh dalam proses belajar. Sehingga pada akhirnya masyarkat dapat mengambil alih peran KSR maupun Sibat untuk mengorganisasir, memobilisasi dan menggerakan kapasitas dan sumberdaya yang dimilkinya untuk mengurangi tingkat kerentanan dalam masalah yang dihadapinya.

Tahap Melibatkan & Menggerakkan Masyarakat dalam kegiatan KBBM-PERTAMA

Tahap 1 : Pengenalan masyarakat dan lingkungannya
  • Menegenali masyakrat dan lingkungannya melalui PRA, VCA dan baseline survey
Tahap 2: Pemasukan Ideea dan kesepakatan rencana aksi
  • Memasukan ide, gagasan kepada masyarkat
  • Menggalang komunikasi koordinasi kemitraan dan kerjasama
  • Motivasi dan persuasi
  • Merencanakan membahas dan menyepakti aksi bersama masyarkat
Tahap 3: Pengorgansasian dan mobilisasi masyarakat dalam aksi nyata
  • Mengorgansiasir elemen/sumber daya masyarakat dalam aksi nayata
  • Membolisasi partisipasi masyarakat dalam aksi nyata
  • Motivasi dan persuasi
Tahap 4: Pemeliharaan lesinambungan dan pembinaan berlanjut
  • Terus memotivasi agar memelihara keberlangsungan aksi secara bersama sama
  • Mengembangkan terus komunikasi, informas, kordinasi dan kerjasama
  • Pembinaan secara berkelanjutan

Pendekatan Kegiatan KBBM-PERTAMA

  • Sosialasasi dan Advokasi
  • Kemitraan dengan pemerintah daerah dan institusi lain
  • Pembentukan tim sibat
  • Pendidikan dan pelatihan

Strategi Melaksanakan Kegiatan KBBM-PERTAMA

  • Advokasi dan diseminasi
  • Pengembangan Kapasitas
  • Partisipatif
  • Penyadaran Gender
  • Penyadaran Sosial
  • Kerjasama Multi-sektoral
  • Implementasi yang Bertahap

Tugas & tanggungjawab Sibat dalam kegiatan KBBM-PERTAMA

Tugas dan Tanggungjawab Umum:
  • Melakukan upaya pemberdayaan kapasitas dan pengorganisasian masyrkarat agar dapat mengambil inisiatif dan melakukan tindakan meminimalkan dampak bencana di lingkungfannnya dengan menggunakan strategi dan pendekatan konsep KBBM-PERTAMA
Tugas dan tanggaungjawab Khusus:
  • Mensosialsasi konsep KBBM-PERTAMA dan penyadaran masyarkat tentang tingkat bahaya, kerentanan dan risko becanan dari rumah ke rumah atau dari keluarga ke kelauarga maupun untuk masyarakat luas dapam berbagai kesempatan
  • Bersama msayarakat melakukan pemetaan di desa/keluarahan tentang tingkat kerawanan, kerentanan maupun sumber daya
  • Memberikan pelaithan atau penyuluhan kepada masyarkaat di sesa keluarhan tentang upaya kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko maupun sistem peringatan dini dan upaya upaya mitigasi
  • Mengerakan masyarakat dalam melaksanakan rencana kegiatan
  • Membantu aparat desa/keluarahan, LPM maupun BPD untuk merumuskan rencana pengendalian dan operasional melalui pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan maupun upaya upaya tanggap darurat bencana
  • Menyelanggarakan pelatihan/simulasi/gladi bagi msayarkata sehingga masyarakat menjadi terbiasa dan mampu melaksnaakan langkah langkah evakusasi dan upaya upaya penyelamatan dan pengamanan diri saat bencana
  • Membantu menrumuskan cara cara menjaga keberlangsungan kegiatan melalui upaya pencarian dana, penyadaran sosial dan lain lain.
  • Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan keberlangsungan kegiatan KBBM-PERTAMA
  • Megorganisir masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan terkait.

Tugas & tanggungjawab KSR dalam kegiatan KBBM-PERTAMA

  • Sebagai motivator tim Sibat dalam pelaksanaan KBBM-PERTAMA
  • Mensosialsasi konsep KBBM-PERTAMA dan penyadaran masyarkat tentang tingkat bahaya, kerentanan dan risko becanan dari rumah ke rumah atau dari keluarga ke kelauarga maupun untuk masyarakat
  • Melakukan pemetaan di desa/keluarahan tentang tingkat kerawanan, kerentanan maupun sumber daya
  • Memberikan pendidikan dekapda tim sibat dan masyarkaat di sesa keluarhan tentang upaya kesiapsiagaan bencana dan pengurangan risiko maupun sistem peringatan dini.
  • Membantu tim sibat untuk merumuskan dan melaksanakan rencana aksi kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana
  • Bersama tim sibat mengatur pelatihan/simulasi/gladi bagi msayarkata sehingga masyarakat menjadi terbiasa dan mampu melaksnaakan langkah langkah evakusasi dan upaya upaya penyelamatan dan pengamanan diri saat bencana
  • Membantu pengurus cabang menrumuskan cara cara menjaga keberlangsungan kegiatan melalui upaya pencarian dana, penyadaran sosial dan lain lain.
  • Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan keberlangsungan kegiatan KBBM-PERTAMA
  • Megorganisir masyarakat dalam melaksanakan berbagai kegiatan terkait.

Tahapan Proses KBBM-PERTAMA

  • Pembentukan Komite Kerja penyusunan tujuan, TOR
  • Seleksi area, HVCA/PRA dan Asesmen Komprehensif
  • Baseline dan KAP (Knowledge, Attitude, Practice) Survei
  • Membina kepercayaan
  • Pengembangan/pengkatifan komite desa/kelurahan
  • Pelatihan KBBM-PERTAMA
  • Mobilisasi KSR, Sibat dan Komite Desa/keluarahan
  • Pemetaan BKRK (Bahaya, Kerentanan, Risiko, Kapasitas)
  • Perencanaan Partisipatif
  • Advokasi dan sosialsasi
  • Promosi perilaku sadar bencana
  • Upaya mitigasi/pengurangan risiko bencana
  • Monitoring evasulasi partisipatif

Kebijakan PMI dalam pengembangan KBBM-PERTAMA

  • Disadari bahwa PMI selama ini sangatt berhasil dalam operasi tanggap darurat bencana namun masih relatif kurang dalam kesiapsiagaan bencana, khususnya kesiapsiagaan yang berbasis masyarakat. Karena itu, Munas PMI tahun 2005 merekomendasikan bahwa PMI perlu memperkuat kesiapsiagaan bencana/pengurangan risiko, mencakup kegiatan KBBM-PERTAMA
  • Dalam rencana strategi manajemen bencana 2004-2009, salah satu kebijakan yang terkait dengan Disaster Preparedness/Risk Reduction adalah memperdayaan masyarakat dalam bidang kesiapsiagaan becana dan upaya pengurangan risko melalui kegiatan KBBM-PERTAMA secara efektif dan terjaga keberlanjutannya untuk meminimalkan dampak dan kerentanan anggota masyarakat lokal menggunakan sebanyak mungkin sumber daya lokal.
  • untuk melaksanakan kebijakan tersebut di atas, PMI Pusat, Daerah dan Cabang bekerjasama dengan masyarakat dan stakeholder lainnya, khususnya IFRC dan PNS (Participating National Societies) mengembangkan kegiatan KBBM-PERTAMA di beberapa daerah Binaan.

Manfaat kegiatan KBBM-PERTAMA

Kegiatan KBBM-PERTAMA memberikan manfaat sebagai berikut:
  • meningkatkan kapasitas masyarkat dalam menajemen bencana dan tanggap darurat bencana. Tim sibat mengorganisasikan dan memberdayakan sumber daya masyarkat setempat untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan serta mensosialsasi cara hidup bersih dan sehat
  • melibatkan sistem administrasi pemerintah desa/keluarahan dalam menyusun konsep pembangunan yang memperhatikan aspek lingkungan dan dampak bencana
  • Konsep KBBM-PERTAMA sangat mudah dan dapat diterapkan di lapangan, sehingga dijadikan model pengembangan manajemen bencana di lingkungan PMI, pemerintah maupun lembaga lain yang peduli pada penanggulangan bencana
  • Upaya mitigasi sttruktur (Fisik) yang dilaksanakan dalam kegiatan KBBM-PERTAMA untuk mengurangi tinglkat bahaya dan risiko dampak bencana yang pada akhirnya mengurangi kerentanan dan kemiskinan struktural di masyarakat.

Ruang LIngkup KBBM-PERTAMA

Kegiatan KBBM-PERTAMA mencakup:
  • Kesehatan: tingkat pencegahan dan upaya mitigasi yang terkait pada penyelamatan jiwa manusia. Sehingga setiap individu memperoleh akses pelayanan kesehatan, karena dampak bencana biasanya menimbulkan penyakit epidemik, polusi, kekurangan gizi dan lain lain.
  • Sosial dan ekonomi : tindakan pencegahan dan upaya mitigasi yang berkaitan dengan lehidupan sosial dam keselamatan sumber sumber ekonomi/kehidupan manusia. sehingga membantu siatiap individu dan kelompok masyarakat agar mampu memecahkan maslah masalah sosial dan tidak kehilangan sumber sumber penghasilan.
  • Lingkungan: tindakan pencegahan dan upaya mitigasi yang berkaitan dengan perlindungan terhadap lingkungan yang dapat menyebabkan bencana

Lokasi pelaksanaan KBBM-PERTAMA

KBBM sangat tepat dilaksanakan di desa/kelurahan atau daerah rawan bencana, yang msayarakatnya memilikitingkat kerentanan tinggi. Selain itu, mereka juga mudah untuk dimotivasi dalam melakukan kegiatan.

Alasan pelaksanaan KBBM-PERTAMA

  • Manajemen penanggulangan bencana sampai dengan kurun waktu terakhir ini hanya terfokus pada upayta bantuan, penyelamatan masyarakat yang terkena dampak bencana, serta rehabilitasi dan rekonstruksi yang tentu saja memerlukan biaya sangat mahal. Cara cara ini terus-menurus dilakukan tanpa adanya langkah-langkah bagaimana mengurangi dampak bencana dan tingkat resiko kerusakan. dengan kegiatan KBBM-PERTAMA, PMI melakukan langkah langkah pemberdayaan kapasitas masyarkat agar mampu mengurangi tingkat risiko dan dampak bencana yang ditimbulkan.
  • KBBM-PERTAMA sangat relevan.Melalui PSK(Pengetahuan SIkap dan Keterampilan) dalam manajemen bencana dan tanggap darurat, masyarkat yang tinggal di daerah rawan bencan dapa berperan langsung sebagai penolong terdekat dan tercepat bagi keluarg maupun warga masyarkat lainnya di lokasi tersebut.
  • PMI melatih TSR (Tenaga Suka Rela) sebagai tim sibat (siaga Bencana Berbasis Masyarakat) yang diharapkan dapat menggerakkan dan membantu masyarakat dalam meningkatkan kapasitasnya dalam melaksanakan upaya-upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko/dampak bencana.
  • Dengan pengetahuan dan kesdaran akan bahaya, kerentanan, kapasitas dan upaya upaya mitigasi yangdibekalkan kepadanya, masyarakat diharapkan mampu membuat peta rawan bencana diwilayahnya. Sehingga masyarakat dapat mengenali jalur0jalur evakuasi penyelamatan yang aman.
  • Masyarkat yang rentan bencana perlu diperdayakan agar bisa melaksanakan upaya upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko/dampak bencana secara mandiri.
  • Melalui kegiatan KBBM-PERTAMA, Masyarkat diwilayah rawan bencana dapat mengurangi dampak bencana, sehingga secara bertahap dapat meningkatkan produktifitas kerja yang akan berdampak pada meningkatnya kondisi kehidupan/kesejahteraan.

Sasaran & Tujuan KBBM-PERATAMA

Sasaran KBBM-PERTAMA
Seluruh warga masyarakat, khususnya masyarkat yang rentan dan miskin di wiliayah rawan bencana

Tujuan KBBM-PERTAMA
  • Meningkatnya Kapasitas Masyarkat dalam melaksanaan upaya upaya kesiapsiagaan dan pengurangan risiko/dampak bencana yang terjadi dilingkungannya.
  • Meningkatnya kapasitas PMI dalam memberikan pelayanan cepat,tepat dan terkoordinasi kepada para korban bencana

Definisi KBBM-PERTAMA

KBBM atau Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat adalah suatu kegiatan yang mengupayakan pemberdayaan kapasitas masyarkat agar dapat mengambil inisiatif dan melakukan tindakan dalam meminimalkan dampak bencana yang terjadi di lingkungannya.

PERTAMA atau Pengurangan Risiko Terpadu Berbasis Masyarakat adalah upaya upaya pengurangan resiko yang dilakukan bersama sama masyarakat yang mencakup seluruh sektor (lingkungan, ekonomi, psiko-sosial dll).

Kegiatan KBBM-PERTAMA bersifat partisipatif dan merupakan pendekatan lintas sektoral untuk memobilisasi masykarakat agar mereka dapat mengupayakan sendiri meminimalkan dampak bencana melalui langkah-langkah mitigasi dan pengurangan risiko yang ditujukan pada pengurangan kerentanan fisik, kerentanan sosio-ekonomi dan sebab-sebab yang tidak terduga.